FENOMENA HOTEL DIJUAL, YANG MANA MAMPU BERTAHAN ?

Share

[Sassy_Social_Share type="floating"]

Kondisi sektor properti selama Pandemi Virus Corona melanda mengalami pukulan keras, dan yang paling terlihat saat ini adalah maraknya Hotel yang dijual.

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, itu merupakan langkah terakhir lantaran pengusaha sudah tak memiliki amunisi untuk bertahan diterpa pandemi virus Corona (COVID-19).

“Memang betul itu menjadi langkah terakhir bagi pelaku usaha jika mereka sudah tidak bisa bertahan,” katanya dikutip dari detikcom, Minggu (7/2/2021).

Situasi pandemi, dijelaskannya memang sangat rumit bagi pelaku usaha hotel karena bisnis tersebut sangat membutuhkan pergerakan manusia untuk mendapatkan konsumen. Sementara, pergerakan orang dibatasi oleh pemerintah dengan alasan untuk menekan laju penularan virus Corona.

Seperti yang kita ketahui juga saat ini Pemerintah memberlakukan PPKM di Jawa dan Bali sehingga memberikan dampak pada pelaku usaha Hotel.

Sementara itu menurut Pendiri sekaligus CEO Panangian School of Property, PANANGIAN Simanungkalit mengatakan bahwa perpindahan kepemilikan dalam sebuah bisnis properti itu merupakan hal yang bisa sewaktu-waktu terjadi.

Dalam setiap krisis, penjualan sebagian saham atau penjualan seruluh kepemilikan saham atas sebuah bisnis, dipandang merupakan jalan yg terakhir, ketika pemiliknya tidak dapat bertahan menunggu pemulihan ekonomi pasca krisis.

“Krisis ekonomi yang pernah terjadi pada tahun 1998 jauh lebih parah dari krisis yg terjadi tahun lalu. Tahun 1998, sebagian besar perusahaan ( hampir 80% ), berada di tangan pemerintah yg dikenal dengan nama Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sebagai akibat menggunungnya hutang macet para pengembang.” ujarnya Senin 8/2/2021.

Banyak dari mereka tidak mampu lagi untuk mengoperasikan perusahaannya akibat besarnya beban hutang tidak mampu di cover oleh cash flow perusahaaan. Akibatnya, perpindahan kepemilikan saham perusahaan marak terjadi dari perusahaan lokal ke perusahaaan asing. Ataupun dr perusahaan lokal ke perusahaan lokal.

“Perbedaannya pada krisis kali ini, terjadi penurunan penerimaan yang sangat tajam bagi pengusaha perhotelan, sebagai akibat pembatasan pergerakan orang ( sosial distancing ), dan sepertinya para pengusaha tersebut belum melihat atau blm bisa memperkirakan sampai kapan keadaan seperti sekarang ini akan berlangsung.” tambahnya.

Beliau juga memberikan pendapat soal Strategi untuk para pelaku usaha mempertahankan bisnisnya, dimana Para pengusaha jelas sangat paham tentang hal ini, yaitu cost cutting di semua lini, dan bertahan dengan mempersipkan cash untuk menutupi kerugian, sampai pemulihan perekonomian mulai terlihat dan pemulihan industri pariwisata mulai terlihat.

“Masalahnya banyak pengusaha perhotelan hanya mampu bertahan satu tahun, atau sampai dua tahun mengalami kerugian. Tetapi banyak juga yang tdk kuat bila sdh lebih dari satu tahun. Nah mereka2 inilah yg terpaksa melepas kepemilikannya saat ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *